Powered By Blogger

Jumat, 29 Juni 2012


Komunikasi dan Informasi di Kalangan Karo Jakarta

          Orang Karo dapat dikatakan sebagai orang yang gemar berkomunikasi. Tanpa mengada – ada, hingga tahun 1915 telah muncul berbagai karya tulis maupun perkumpulan organisasi Karo di Sumatera Utara ( dahulu bernama Sumatera Timur) yang menampung hasrat orang Karo dalam berkomunikasi sekaligus bersosialisasi. Komunikasi sebagai perantara beredarnya informasi dan sarana berkomunikasi (bersosialisasi) dalam masyarakat Karo dikenal / dikemas dalam dua tipe, yaitu komunikasi verbal dan non verbal.
          Komunikasi verbal tentunya memiliki fungsi untuk memaknai bahasa Indonesia (sebagai bahasa Nasional) dan cakap Karo sebagai local genius di Tanah Karo. Sedangkan untuk media non – verbal, sarana yang menjadi pilihan paling populer adalah sarana koran (sebagai media cetak)  yang sangat digemari oleh orang –orang yang sering singgah di kedai kopi. Majalah yang telah beredar lama di Batavia, bahkan ketika pemerintah Kolonial masih bercokol di Indonesia adalah majalah yang bernama Mergasilima. Pada tahun 1960 –an kemudian muncul majalah Terlong: Tugas dan Tekad sebagai wadah menampung tulisan para intelektual Karo. Pada tahun 1970 dimotori oleh N. J. Sembiring, para mahasiswa Karo di Jakarta menerbitkan buletin Piso Surit, cukup eksis selama 10 tahun. Setelah satu dekade lamanya, Piso Surit hilang dari peredaran namun dengan segera tergantikan oleh koran Simaka dan Kamka. Akan tetapi seperti halnya para pendahulunya, kedua koran tersebut tidak bertahan lama dan kembali hilang dari peredaran.
          Pada 2 Oktober 1994 beberapa tokoh Karo diantaranya Neken Jamin Sembiring Kembaren, Jeki Depari, Simson Ginting dan Aswin Ginting mengadakan suatu pertemuan, ditindak – lanjuti dengan pertemuan dengan beberapa mahasiswa di Kampus UNTAG Jakarta, sepakat untuk menerbitkan sebuah tabloid Karo dengan nama Sora Mido. Nama ini sekaligus sebagai upaya mengenang para pahlawan yang berjuang di medan laga era kemerdekaan. Meski melewati gelombang tekanan yang bertubi – tubi, Tabloid Sora Mido tetap mampu eksis hingga sekarang diproduksi secara massal di Jalan Jatiwaringin Raya, Pondok Gede. Keseriusan dan ketahanan Sora Mido kemudian memacu semangat beberapa tabloid Karo untuk dapat bangkit kembali, hingga pada tahun 2002 muncul kembali Simaka dalam format majalah, berproduksi di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
          Berkembangnya media pers sebagai sarana komunikasi menjadi indikator yang menguatkan Komunitas Karo telah berkembang dengan pesat, terutama di  Jakarta dan menyebar hingga kota – kota di Pulau Jawa seperti halnya di Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dll. Ini mengindikasikan bahwasanya para cendekia Karo telah menyebar di kota – kota besar tersebut serta bergabung di dalam pusat – pusat studi yang terkait dengan perguruan tinggi masing – masing kota. Hal ini menyimpulkan, bahwa informasi – informasi yang dihasilkan tidak lagi hanya mengenai / mengulas mengenai Tanah Karo tetapi juga seputar perkembangan Komunitas Karo yang sedang berkembang serta terintegrasi dengan ilmu pengetahuan yang semakin populer.

Sumber:
Daniel Perret. Kolonialisme dan Etnisitas. Jakarta: Komunitas Bambu. 2010
Sarjani Tarigan (editor). Dinamika Orang Karo, Budaya dan Modernisme. Ergaji. Tanpa Penerbit. 2008
Wawancara lisan dengan Bapak N. J. Sembiring di rumah Beliau (tanggal wawancara tidak ada).

Special Thanks to:
Bapak Neken Jamin Sembiring Kembaren (Narasumber Utama)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar