Powered By Blogger

Jumat, 10 Agustus 2012

Musikalisasi Tangga Nada Karo


Musikalisasi Tangga Nada Karo



Dulu tidak sengaja penulis menjumpai sebuah liputan di televisi pemerintah yang mengulas mengenai sebuah peradaban kuno di China. Cukup mengejutkan, karena suku terkait memiliki identitas yang sama persis dengan suku Karo di Sumatera Utara, hanya saja kemudian penulis lupa dalm acara apa dan kapan liputan tersebut ditayangkan. Mulai dari pakaian pria yang memakai Bekabuluh dan Bulang – Bulang serta pakaian wanita yang berTudung dan berhiaskan Emas – mas hingga bentuk rumah adat panggung empat sisi serta permainan nada – nada minor yang seolah – olah sedang menyanyikan tangis – tangis. Keterkaitan tersebut menyebabkan sebuah pertanyaan mendasar, apa mungkin orang Karo yang ditenggarai berasal dari ras Proto Melayu, adalah suku yang bernenek - moyangkan dari orang China tersebut? Dari sebuah penelitian dan wawancara singkat, berhasil didapatkan sekilas mengenai musikalisasi tangga nada Karo yang cukup identik dengan tangga nada China.
Pada dasarnya nada – nada Karo sama dengan tangga nada yang dimiliki orang orang China, dalam hal ini adalah tangga nada Pentatonic, yang terdiri dari 5 nada. Tangga nada pentatonic China terdiri dari lima nada yaitu do, re, mi, sol, la (minus fa dan si). Tangga nada pentatonic Mayor (M) Karo kemudian sama dengan nada pentatonic China namun nada dasarnya diawali nada sol, jadi tangga nada pentatonic Karo adalah sol, la, do, re, mi. Tangga nada pentatonic minor (m) China adalah la, si, do, mi, fa. Sedangkan nada pentatonic Karo adalah mi, fa, la, si, do. Dengan kata lain, perbedaan nada dasar pentatonic Karo diawali oleh nada keempat dari tangga nada China. Keterkaitan yang cukup menarik adalah samanya tangga nada Sunda dengan China, yang identik (sama persis), perbedaan diantaranya hanya terletak pada variasi dalam permainan musiknya.
Variasi ending musik Patam – patam Karo memiliki kekayaan dalam style bermain sehingga seorang pemain keyboard dapat memiliki beragam koleksi variasi patam / style / program Karo, yang kemudian tidak membosankan penonton dalam acara guro – guro aron. Akan tetapi, semua variasi patam akan dimulai dari nada ketiga (mi) yang kemudian dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. Patam keyboard pada masyarakat Karo tempo dulu tidak dikenal, ditenggarai karena komposisi musik tradisional Karo (ensambel gendang lima sedalanen) berjalan dengan sangat lambat, dikarenakan lead sarune(sangat mewajibkan kemampuan bernafas yang prima dari seorang penarune) bermain di tempo lambat. Musik modern Karo yang dimainkan dengan keyboard diperkenalkan kemudian oleh salah satu maestro musik petik Karo, Djasa Tarigan. Beliau memulai mencoba memprogramkan musik tradisional Karo ke dalam keyboard type KN buatan Technics pada tahun 1984. Pada tahun 1990 – an awal kemudian baru musik keyboard Karo menjadi tren di kalangan orang Karo. Selain pembiayaan yang lebih murah dibanding dengan menyewa satu set lengkap ensambel gendang lima sedalanen, seorang pemain keyboard dapat lebih mudah mengkombinasikan patam – patam maupun odak – odak dengan lagu yag lebih populer maupun sedang ngetrend. Hal ini kemudian melahirkan generasi seperti Parlin Ginting, Marjoni Perangin – Angin, Sakti Sembiring, Hendro (Jazz) Sembiring. Meski kalah pamor dibanding pemain keyboard, tetapi si – erjabaten tradisionil Karo seperti Sorensen Tarigan, Ismail Bangun, serta para maestro Djasa Tarigan, Wardin Ginting, (alm.) Tukang Ginting dan (alm.) Stasion Tarigan pun pasti tidak akan pernah dilupakan.
Special Thanks:
Novrendo Malbreba Malau, atas wawancara singkat dan atensinya mengenai musik Karo.
Endi Bastanta Sinuraya, yang sedang galau mengenai perkembangan musik modern dan pop Karo yang “meracuni” generasi sekarang.

Senin, 06 Agustus 2012

Corat Coret Sejarah GBKP (Alternatif)


Awal dari berdirinya GBKP lebih dikarenakan penggangguan aset perkebunan di daerah Tanah Karo oleh Tambat Bukit dan teman – temannya yang sangat merugikan Belanda di area Sibolangit. Oleh karena itu, Belanda memilih untuk melakukan penginjilan kepada orang Karo untuk meredam pemberontakan serta perusakan area perkebunan Belanda.  Sebagai implementasi aksi ini di pilih lokasi di daerah Buluh Hawar pada 18 April 1890. Setelah melakukan pelobian ke beberapa kelompok penyebar injil di Nusantara, maka disepakati bahwasanya aksi ini dikelola oleh Nederlands Zendelingenootschap (NZG) dengan mengutus Pendeta (Pdt.) H. C. Kruyt berikut empat asistennya yang bekerja di Tomohon, Minahasa menuju Tanah Karo. Sayangnya pada 1892, Pdt. Kruyt dipulangkan kembali menuju Belanda tanpa berhasil membaptis seorang Karo dan digantikan oleh Pdt. J. K. Wijngaarden. Beliau berhasil membaptis 6 orang Karo pada 20 Agustus 1893, meski setahun berikutnya beliau meninggal akibat serangan disentri. Pdt. Wijngaarden kemudian digantikan oleh Pdt. M. Joustra yang kemudian berhasil menerjemahkan 104 cerita Alkitab ke dalam bahasa Karo. Pada saat bersamaan, datanglah Pdt. Henri Guillame ditemani seorang guru injil bernama Martin Siregar. Hingga tahun 1900 hanya 25 orang yang berhasil masuk Kristen akibat kegigihan orang Karo akan budayanya. Pada 1903 datanglah Pdt. E. J. van den Berg dan J. H. Neumann yang kemudian berhasil membuka pos baru penginjilan di Kabanjahe. Mereka kemudian berhasil mendirikan Rumah Sakit di Sibolangit dan Kabanjahe (yang pada saat itu sangat eksklusif bagi masyarakat pribumi) serta Rumah Sakit Kusta di Lau Simomo.
Tahun 1906 dengan kedatangan Pdt. Smith maka dibukalah Kweekschool (Sekolah Guru) di Berastagi. Sekolah ini kemudian dipindahkan ke Desa Raya dan pada tahun 1920 ditutup. Kemudian pada 1939 seiring kedatangan Pdt. Kraemer yang sedang meninjau perkembangan sekolah zending di Sumatera Timur, ada usulan untuk memisahkan jemaat Karo dari Christianse Kerk. Setahun berikutnya, dua guru injil yaitu Palem Sitepu dan Thomas Sibero mendapat kesempatan untuk disekolahkan di Seminari HKBP Sipoholon (saat itu merupakan seminari terbaik seantero Sumatera) di Tarutung sekaligus dipersiapkan sebagai pendeta pertama yang akan melayani bakal jemaat pribumi pertama. Pada 23 Juli 1941 dengan dilantiknya Palem Sitepu dengan Thomas Sibero menjadi Pendeta, diadakan sidang sinode (pertama) yang membahas mengenai keterlibatan orang Karo menjadi Kristen Karo dan sebagai output sidang tersebut diterbitkan edaran mengenai penetapan berdirinya Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Sibolangit. Pada sidang sinode tersebut juga disahkan Tata Gereja GBKP yang pertama sekaligus pelantikan Pdt. J. van Muylwijk sebagai ketua Moderamen GBKP dan Guru Lucius Tambun sebagai Sekretaris Umum. Pdt. Palem Sitepu kemudian dikirim menuju Tiganderket sebagai wakil Ketua Klasis untuk Karo Gugung dan Pdt. Thomas Sibero sebagai wakil Ketua Klasis Karo Jahe di Peria – ria.

Thus, perlu digarisbawahi dalam artikel ini adalah pentingnya kampung (tidak saja) Buluh Hawar sebagai basis penginjilan pertama, tetapi juga Sibolangit dan Kabanjahe terutama di wilayah Rumah Sakit Pemena dan juga Rumah Sakit Kusta Lau Simomo. Ketiga rumah sakit ini didirikan ketika fasilitas kesehatan menjadi sesuatu yang amat luks bagi orang Karo, terutama keberadaan bidan dan dokter yang sangat penting di pedalaman. Kisah murtadnya seorang jemaat yang anggota keluarganya meninggal akibat penyakit yang gagal disembuhkan oleh tim medis zending menjadi sesuatu yang lazim di zaman dahulu ketika profesi dokter masih belum populer di kalangan orang Karo. Kemudian perkembangan daerah Kweekschool Berastagi yang menjadi basis pendidikan keguruan bagi rakyat Karo menjadi jendela transfer menuju modernisasi yang kini berhasil mengantar beberapa maestro Karo menuju kesuksesan tertinggi di kancah nasional maupun internasional.  Sekolah ini kemudian dipindahkan menuju desa Raya, sekarang masih di kecamatan Berastagi. Tidak ketinggalan adalah keberadaan GBKP di desa Tiganderket dan Peria – ria sebagai klasis pertama penyambung lidah GBKP menuju masyarakat Karo Gugung dan Karo Jahe.
23 Juli perlu diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) GBKP. Pada 23 Juli 1941 dengan diselenggarakannya Sidang Sinode pertama di Sibolangit, secara de facto orang Karo memisahkan diri dari NZG dan Christianse Kerk serta berdikari menuju GBKP yang memiliki Tata Gereja dan Kepengurusan Moderamen yang mandiri. Perlu digaris – bawahi baha ini juga dapat dikatakan sebagai hari lahir GBKP secara de facto dan de jue serta sudah sepatutnya kita rayakan dengan melakukan refleksi terhadap keKaroan dan keKristenan sebagai implementasi “pemekaran” di sidang sinode pertama tersebut.
Hingga 1900 hanya 25 orang yang berhasil diKristenkan, oleh wakil – wakil NZG di daerah Karo. Hal ini kemudian berbalikan dengan data bahwa pada tahun 1960 – an (seiring Pemberontakan G30S / PKI) dimana jemaat Karo mencatat rekor Kristenisasi terbesar di Indonesia dengan kisaran angka 60.000 orang per tahun. Ini mungkin sangat erat kaitannya dengan implementasi tradisi Karo ke dalam kebaktian dan mungkin kini ada perlunya kontekstualisasi aktifitas adat yang kemudian “dirohanikan” sebagai upaya penjaringan jemaat dan profesionalisme kependetaan yang lebih maju. Semoga diskusi ini berjalan menarik karena tidak jarang aktifitas kerohanian menyenggol garis batas adat / tradisi yang animis.
Pentingnya pemeliharaan aset GBKP seperti gereja pemena di Buluh Hawar serta Rumah Sakit Sibolangit, Kabanjahe serta Lau Simomo sebagai silent monument perkembangan masyarakat Karo dalam Kristen. Pembangunan aset tersebut merupakan suatu anugerah di zamannya terkait aktifitas NZG secara siang malamnya bekerja mencari domba – domba yang siap digembalakan. Kini seiring dengan keluarnya GBKP dari aktifitas NZG ada kealpaan masyarakat Karo dalam melihat bangunan – bangunan tersebut sebagai monumen / tugu peringatan perjuangan para pendeta dan guru agama membina Kristenisasi di tengah masyarakat yang mengenyam pendidikan pun tidak. Semoga ada kesadaran dari masyarakat untuk memprioritaskan perkunjungan tersebut sebagai jalan salib / wisata rohani pertama sebelum bertolak ke Jerusalem. Selain lebih murah secara finansial, tentu bakal ada kerinduan melihat bagaimana dulu aktifitas zending oleh Pdt. Kruyt, Joustra, Guillame, Neumann serta bagaimana penderitaan Pdt. WIjngaarden hingga ajal menjemput. Terlebih lagi semangat Pdt. Palem Sitepu serta Pdt. Thomas Sibero dalam melayasi jemaat / saudara – saudari orang Karo, lebih ekstrem lagi kembali pada zeitgeist Zaman Penjaringan Jemaat.   

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Batak_Karo_Protestan